Monday, April 8, 2013

Partner in Crime #3

Wardah Eye Shadow B
Wardah Lightening TWC 01 - Light Beige

Revlon Costum Eyes 025
Oriflame Eye Envy - 20346 Green Fusion
Body Shop Born Lippy - Passionberry

Wardah Exclusive Lipstick - 41 Harming Red
Wardah Lip Gloss
Elizabeth Helen - 15, Saudi Cosmetics
Wardah Matte Lipstick - 05 Peach
Revlon Creme Lipstick - 423 Pink Velvet

Oriflame Lash Booster
Revlon Colorburst Lipgloss - Rosepearl
Maybelline Hyper Sharp Liner - Black
Maybelline Proof Eyeliner - Dark Brown
Maybelline Master Liner - White
Giordani Liquid Eye Liner - Shiny Black

Partner in Crime #2




Perawatan wajah...

Face Mask
Sunscreen Gel
Soft Scrub
Milk Cleanser
Face Toner
Facial Foam
Night Cream
Day Cream

Partner in Crime #1





I like lipstick..
That's all my Favorite lipstick..

U want have one?? hihihii..:))

Saturday, April 6, 2013

Rahasia Jodoh, Rahasia Istimewa Allah SWT

Benarkah judul di atas ?
Dalam surah Ar-Rum ayat 21, Allah menegaskan bahwa Allah telah menciptakan pasangan-pasangan untuk kita dari jenis kita sendiri agar kita mendapatkan ketenangan dan ketenteraman batin (as-sukun al-qalbi) dan ketenangan ragawi (as-sukun al-jismani) dari pasangan kita itu. 

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu mawaddah dan rahmat. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS Ar-Rum [30]:21)

Hal yang perlu kita garis bawahi di sini adalah kalimat “litaskunu ilaiha (supaya kamu cenderung dan tenteram kepadanya)”. Kalimat inilah yang menjadi alasan mengapa Allah menciptakan untuk kita pasangan-pasangan dari jenis kita sendiri. Tujuannya, agar kita sakinah. Kata sakinah berasal dari kata sakana yang berarti diam atau tenang setelah sebelumnya bergejolak, guncang, dan sibuk. Itulah sebabnya rumah dinamai sakan, karena ia adalah tempat ketenangan setelah sebelumnya si penghuni sibuk di luar rumah. 

Pisau dinamai sikkin, karena ia adalah alat yang menjadikan binatang yang disembelih tenang, tidak bergerak, setelah tadinya ia meronta. Nah, jika Anda sudah bertemu dengan jodoh Anda, batin dan raga Anda akan merasa tenang, tenteram, dan cenderung kepada jodoh Anda itu. Namun, sebelum Anda bertemu dengannya, batin dan raga Anda akan berguncang, meronta, dan bergejolak. Bukankah demikian? Isyarat yang sama dapat juga kita jumpai dalam surat Al-A’raf : 189.

“Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu dan darinya Dia menciptakan pasangannya, agar ia merasa tenang kepadanya.” (QS. Al-A’raf  [7]: 189)

Tujuan diciptakannya kita umat manusia berjodoh atau berpasangan adalah sebagai berikut :

1. Agar kita mengingat akan kebesaran dan tanda-tanda kekuasaan Allah.
2. Agar kita mengetahui bahwa Tuhan Yang Maha Esa dan yang tidak berpasangan itu hanya Sang Pencipta.
3. Agar kita memperoleh ketenangan dan ketenteraman raga dan batin dari pasangan kita itu.



Friday, April 5, 2013

Love and Religion

"Aku suka mendengarmu bernyanyi, Kamu suka mendengarku mengaji. Tuhan pencipta yang hebat yaa.."

"Jangan tanya aku bagaimana rasanya berpisah karena cara berdoa yang tak sama. Rasa itu belum ada namanya, asing..."


"Sampaikan salamku untuk Tuhan-mu. Terima kasih karena kamu dicipta walau tak boleh kucinta"


"Aku tidak menaruh heran jika kamu memuja Tuhanmu. Menciptakanmu adalah suatu kebesaran"


"Darimana kamu tahu kalau kita pisah Tuhan kita masing-masing tidak menangis?"

"Beritahu aku, apa perbedaan cinta ciptaan Tuhanmu dan Tuhanku"


"Jangan pernah bilang kamu tidak kuperjuangkan, Aku hanya tidak sampai hati jika cintamu kepada Tuhanmu berhenti"


"Tuhanmu menciptakanmu terlalu indah. Sekarang jika aku jatuh cinta padamu dia akan marah?"


"Bisa tanyakan pada Tuhanmu, bolehkah aku yang bukan umat-Nya mencintai hamba-Nya?"




twitter @myARTasta penulis buku ADRIANA.

Thursday, April 4, 2013

Wednesday, April 3, 2013

Tuesday, April 2, 2013

Our Graduation.. Our Memory




Izinkan Aku Menciummu

Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku 'dipaksa' membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu.

Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu.Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.

Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya.Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya. Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.

Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.

Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do'a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.

Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.

Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguk nya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang baik dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.